PMMBN UNUSA Dorong Kolaborasi Substantif Moderasi Beragama di DPRD Jawa Timur

Surabaya — Upaya penguatan moderasi beragama dan bela negara dinilai tidak cukup jika hanya berhenti pada ruang diskusi akademik. Menjawab tantangan tersebut, Pergerakan Mahasiswa Moderasi Beragama dan Bela Negara (PMMBN) Jawa Timur I melakukan kunjungan strategis ke Gedung DPRD Provinsi Jawa Timur, Selasa (27/1/2026), sebagai bagian dari ikhtiar mempertemukan gagasan mahasiswa dengan proses perumusan kebijakan publik.

Kunjungan ini menegaskan peran mahasiswa sebagai aktor intelektual yang aktif mengawal isu kebangsaan melalui pendekatan dialogis dan kolaboratif. PMMBN menilai parlemen daerah merupakan ruang penting untuk menyinergikan nilai moderasi beragama dengan kebijakan yang berdampak langsung pada masyarakat.

Dalam pertemuan tersebut, isu literasi politik menjadi sorotan utama. Akademisi hukum dan kebijakan publik, Dr. H. Fredi Purnomo, S.H., M.H., menekankan bahwa pemahaman politik yang memadai merupakan prasyarat bagi mahasiswa untuk menjaga kualitas demokrasi dan memastikan keberagaman tetap terlindungi dalam setiap regulasi.

Ketua Komisariat PMMBN UNUSA, Neng Himatul Aliyah, menyampaikan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk mengawal kebijakan agar sejalan dengan nilai kebhinekaan. Menurutnya, tanpa pemahaman yang utuh terhadap proses legislasi, narasi moderasi beragama berisiko menjadi slogan tanpa dampak nyata.

Pandangan tersebut diperkuat oleh Sekretaris DPRD Jawa Timur, Dr. Moh. Ali Kuncoro, S.STP., M.Si., yang menyoroti pentingnya tata kelola organisasi dan kerja tim dalam memastikan gagasan dapat diimplementasikan secara efektif. Ia menilai kolaborasi antara pemuda dan lembaga legislatif perlu dibangun secara berkelanjutan agar menghasilkan program yang terukur.

Bagi PMMBN UNUSA, kunjungan ini menjadi pijakan untuk mengembangkan praktik moderasi beragama di lingkungan kampus Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA). Keberagaman latar belakang mahasiswa dipandang sebagai potensi strategis untuk membangun budaya dialog, inklusivitas, dan saling menghormati.

Ke depan, PMMBN UNUSA menyatakan komitmennya untuk memperluas gerakan dari advokasi menuju aksi nyata di masyarakat. Sinergi antara mahasiswa dan pemangku kebijakan dinilai krusial dalam merespons tantangan radikalisme, polarisasi sosial, serta dinamika ruang digital. Melalui kolaborasi yang berkesinambungan, PMMBN berharap dapat berkontribusi secara konkret dalam menjaga persatuan dan memperkuat demokrasi di tingkat lokal maupun nasional.

banner 400x130

Prof. Nuh Tegaskan UNUSA Harus Bertumbuh dengan Nilai dan Manfaat

SURABAYA — Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) meneguhkan arah pengembangan institusi menuju kampus unggul berdaya saing global melalui Pidato Ilmiah Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya (YARSI), Prof. Dr. Mohammad Nuh, pada agenda Pidato Tahunan Rektor bertajuk Capaian 2025 dan Sosialisasi Program Kerja 2026–2030.

Dalam pidatonya, Prof. Nuh menekankan bahwa pertumbuhan (growth) adalah karakter utama sebuah institusi yang hidup, dan karena itu harus menjadi orientasi strategis dalam pembangunan UNUSA. Namun, ia menegaskan pertumbuhan tersebut bukan hanya soal angka, tetapi mencakup kualitas, kematangan, dan nilai kemanusiaan.

“Pertumbuhan UNUSA harus dipahami secara lebih luas. Tidak hanya kuantitatif, tetapi juga kualitatif dan humanis. Lingkungan akademik harus sehat untuk tumbuh bersama,” ujar Prof. Nuh.

Ia menggarisbawahi bahwa mahasiswa adalah pusat dari proses pertumbuhan institusi. Prinsip student first, menurutnya, adalah komitmen nyata dalam tata kelola UNUSA ke depan dan bukan sebatas jargon.

Selain mahasiswa, ia menyoroti pentingnya pertumbuhan relasi sosial dan penghargaan di lingkungan dosen serta tenaga kependidikan (tendik). Nilai, prestasi, dan kontribusi setiap elemen sivitas harus dihargai secara proporsional demi membangun budaya saling dukung yang kuat.

“Jika nilai dan capaian dosen, tendik, dan mahasiswa dihargai dengan adil, maka kekompakan muncul. Dari kekompakan itulah kekuatan sebuah institusi dibangun,” jelasnya.

Prof. Nuh juga menekankan urgensi continuous improvement — dorongan untuk menjadikan setiap hari sebagai ruang belajar dan refleksi. Baginya, pertumbuhan sejati adalah pertumbuhan yang berkelanjutan (sustainable growth), yang lahir dari pembiasaan untuk belajar, berbenah, dan percaya diri.

Keyakinan diri (self confident) disebutnya sebagai pintu masuk munculnya energi potensial yang mendorong akselerasi institusi.

“Keyakinan adalah awal dari segalanya. Katakan dengan percaya diri: We can, insyaAllah. Setelah itu barulah kita bangun mekanisme pembelajar sejati,” tuturnya.

Di bagian akhir, ia menegaskan bahwa seluruh proses pertumbuhan dan pembelajaran harus memiliki orientasi kemanfaatan sebagai tujuan akhir.

“Segala usaha akademik harus memberi manfaat. Tidak hanya bagi institusi, tetapi juga bagi umat dan masyarakat Indonesia,” tegasnya.

Pidato ilmiah tersebut menegaskan kembali positioning UNUSA sebagai perguruan tinggi yang berorientasi pada pertumbuhan berkelanjutan, kemanfaatan sosial, nilai kemanusiaan, dan kepercayaan diri, selaras dengan visi UNUSA untuk menjadi kampus unggul, modern, dan kompetitif di tingkat global.

Musaffa Safril Apresiasi UNUSA dalam Dialog Moderasi dan Karakter Pemuda

SUMENEP — Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) kembali menguatkan ruang dialog akademik melalui kegiatan Podcast FKIP UNUSA yang digelar pada 13 Januari 2025 di Kampus C UNUSA. Kegiatan ini menghadirkan Ketua PW GP Ansor Jawa Timur, Sahabat Musaffa Safril, sebagai narasumber, dengan Sunanto (Dosen PGSD FKIP UNUSA) sebagai host.

Mengangkat tema “Ansor Bukan Hanya Seragam”, podcast ini menekankan bahwa GP Ansor tidak hanya dipahami sebagai organisasi berbasis simbol atau atribut, melainkan sebagai wadah pembentukan karakter dan nilai kebangsaan, mulai dari disiplin, tanggung jawab, hingga toleransi antarumat beragama.

Dalam pemaparannya, Musaffa Safril menegaskan bahwa Ansor memiliki pijakan ideologis yang kuat.

“Ansor harus tetap berpegang teguh pada Aswaja. Ini adalah fondasi ideologis dalam bersikap dan bertindak,” ujarnya.

Selain prinsip Aswaja, Musaffa menekankan bahwa GP Ansor juga berkomitmen pada kemanusiaan dan kebangsaan, serta menjaga posisi independen demi kepentingan bangsa, tanpa memandang perbedaan agama, suku, maupun golongan.

Ia juga menyampaikan apresiasi terhadap perkembangan UNUSA, khususnya Kampus C, yang dinilainya memiliki fasilitas representatif dan atmosfer akademik yang positif.

“Kampusnya keren. Meski tergolong baru, UNUSA sudah menunjukkan kualitas sebagai kampus unggul di berbagai bidang,” ungkapnya.

Podcast ini menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa FKIP UNUSA dalam memahami nilai karakter, moderasi beragama, hingga komitmen kebangsaan yang relevan bagi calon pendidik.

Melalui program ini, FKIP UNUSA menegaskan komitmennya menghadirkan ruang edukasi yang modern, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan zaman, sekaligus memperkuat kolaborasi antara dunia kampus dan organisasi kepemudaan.

Tokoh Muda NU, Ning Lia, Beri Pesan Pendidikan dan Motivasi di UNUSA

SURABAYA – Tokoh muda dan pegiat literasi, Ning Lia, hadir sebagai narasumber dalam program Podcast FKIP Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) pada Jumat (12/12/2025). Dalam kesempatan tersebut, ia membagikan pengalaman, gagasan, serta motivasi seputar dunia pendidikan, literasi, dan peran generasi muda dalam membangun ekosistem belajar yang lebih inklusif.

Dalam sesi podcast yang dipandu oleh tim Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNUSA, Ning Lia menekankan pentingnya menghadirkan ruang-ruang belajar kreatif yang tidak hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga membentuk karakter dan kepekaan sosial. Menurutnya, tantangan pendidikan saat ini bukan hanya tentang meningkatkan minat baca, tetapi juga bagaimana menjadikan literasi sebagai kebutuhan dan gaya hidup.

“Literasi itu bukan sekadar membaca buku, tetapi membaca realitas. Mahasiswa perlu dibekali kemampuan memahami konteks, berpikir kritis, dan berani mengambil peran,” ujarnya dalam dialog tersebut.

Selain mengisi podcast, Ning Lia juga berkesempatan mengunjungi Perpustakaan Kampus C UNUSA. Dalam kunjungan tersebut, ia melihat langsung fasilitas, koleksi buku, serta layanan literasi yang disediakan bagi mahasiswa dan publik. Ia mengapresiasi komitmen kampus dalam menyediakan ruang membaca yang nyaman, modern, dan mudah diakses.

Menurutnya, keberadaan perpustakaan yang terkelola dengan baik menjadi salah satu faktor penting untuk menumbuhkan budaya literasi di lingkungan kampus. Ia mengajak mahasiswa untuk tidak hanya menjadikan perpustakaan sebagai tempat mengerjakan tugas, tetapi juga sebagai rumah pengetahuan yang bisa memperluas wawasan dan memperkuat daya pikir.

Pihak FKIP UNUSA menyambut baik kehadiran Ning Lia dan berharap dialog serta kunjungan tersebut dapat menguatkan kolaborasi dalam pengembangan kegiatan literasi di lingkungan kampus. Mereka menilai, pandangan Ning Lia yang dekat dengan isu pendidikan dan pemberdayaan pemuda mampu memberikan perspektif baru bagi sivitas akademika.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya FKIP UNUSA untuk menghadirkan figur-figur inspiratif yang dapat memotivasi mahasiswa dalam mengembangkan potensi diri, khususnya di tengah dinamika perkembangan dunia pendidikan yang semakin cepat.

Dengan berbagi pengalaman melalui podcast dan melihat langsung ekosistem literasi kampus, Ning Lia berharap kolaborasi antar komunitas, institusi pendidikan, dan generasi muda dapat terus diperkuat.

“Kita butuh anak muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga peduli dan mau terlibat. Pendidikan adalah kerja bersama,” tutupnya.