Satlantas Polres Probolinggo Turun ke Paiton Beri Edukasi Keselamatan Jalan

PROBOLINGGO — Tingginya mobilitas pekerja industri menjadi perhatian kepolisian dan instansi terkait. Menyikapi hal tersebut, Satuan Lalu Lintas Polres Probolinggo bersama Jasa Raharja dan Samsat Kraksaan menggelar sosialisasi keselamatan berlalu lintas di lingkungan PT Secco Nusantara, Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jumat (23/1/2026).

Kegiatan dipimpin Kanit Kamsel Satlantas Polres Probolinggo Aiptu M. Arif BS, didampingi Pimpinan Jasa Raharja Cabang Probolinggo Hermanto Siregar, Pimpinan PDPP Samsat Kraksaan Yanu Prastiawan, serta Baur STNK Satlantas Polres Probolinggo Aiptu M. Ilham.

Dalam kegiatan tersebut, karyawan diberikan edukasi mengenai disiplin berlalu lintas, penggunaan perlengkapan keselamatan, serta kesadaran hukum saat berkendara. Materi juga menyinggung tingginya risiko kecelakaan bagi pekerja industri karena aktivitas pulang-pergi dengan jadwal padat.

“Pekerja industri merupakan la kelompok rentan kecelakaan karena mobilitas tinggi. Disiplin dan kepatuhan hukum di jalan sangat penting untuk mengurangi risiko,” tegas Aiptu Arif.

Pimpinan PT Secco Nusantara, Taufik Hidayat, menyambut baik kegiatan ini dan menyampaikan apresiasi atas kepedulian instansi terkait terhadap keselamatan karyawan.

“Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat dan perlu dilaksanakan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Selain sosialisasi keselamatan, Samsat Kraksaan juga menghadirkan layanan mobil Samsat Keliling di area perusahaan. Layanan ini memudahkan karyawan membayar pajak kendaraan tanpa meninggalkan lokasi kerja.

“Ini bagian dari upaya mendekatkan pelayanan publik sekaligus meningkatkan kepatuhan administrasi kendaraan bermotor,” jelas Pimpinan Samsat Kraksaan, Yanu Prastiawan.

Melalui sinergi lintas instansi, kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan budaya tertib berlalu lintas, mengurangi angka kecelakaan, serta memperkuat kepatuhan masyarakat dalam administrasi kendaraan bermotor di Kabupaten Probolinggo.

banner 400x130

LSM KPK Nusantara Laporkan Dugaan Penyimpangan Dana Desa dan Proyek Pemerintah di Probolinggo ke Kejati Jatim

PROBOLINGGO — Dugaan penyimpangan dana desa dan proyek pemerintah di Kabupaten Probolinggo resmi masuk ke ranah penegakan hukum. Kamis (8/1/2026), Ketua LSM Komunitas Pemantau Korupsi (KPK) Nusantara Probolinggo Raya, Hudik, secara langsung menyerahkan laporan pengaduan tersebut ke Kejaksaan Tinggi Jawa Timur.

Pelaporan itu merupakan tindak lanjut dari rangkaian investigasi lapangan serta pengumpulan data awal yang dilakukan LSM KPK Nusantara Probolinggo dalam kurun waktu tertentu. Dari hasil penelusuran tersebut, tim menemukan sejumlah indikasi ketidaksesuaian antara perencanaan, pelaksanaan, hingga penggunaan anggaran negara yang bersumber dari dana desa maupun proyek pemerintah daerah.

Hudik menyampaikan, laporan yang diserahkan ke Kejati Jatim mencakup beberapa desa di wilayah Kabupaten Probolinggo serta sejumlah proyek pemerintah yang diduga menggunakan anggaran negara. Menurutnya, temuan awal tersebut perlu diuji dan ditindaklanjuti melalui mekanisme audit serta pemeriksaan menyeluruh oleh aparat penegak hukum yang berwenang.

“Pada hari ini kami melaporkan beberapa desa di Kabupaten Probolinggo ke Kejati Jawa Timur untuk dimintai pertanggungjawaban terkait penggunaan anggaran negara,” ujar Hudik kepada wartawan, Kamis (8/1/2026).

Meski telah melayangkan laporan resmi, Hudik menegaskan bahwa pihaknya tetap menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah. Ia menekankan, langkah hukum yang ditempuh tidak dimaksudkan untuk menyimpulkan adanya pelanggaran oleh pihak tertentu, melainkan sebagai bentuk kontrol sosial dan partisipasi publik dalam mendorong tata kelola keuangan negara yang transparan dan akuntabel.

“Kami menekankan asas praduga tak bersalah. Laporan ini bukan untuk menghakimi siapa pun, tetapi meminta agar dilakukan audit dan pemeriksaan secara profesional, sehingga dapat dipastikan apakah pengelolaan anggaran sudah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan atau belum,” jelasnya.

Selain dana desa, laporan tersebut juga mencantumkan dugaan ketidaksesuaian pada sejumlah proyek pemerintah di Kabupaten Probolinggo. Proyek-proyek yang dibiayai anggaran negara itu, kata Hudik, perlu diaudit untuk memastikan kesesuaian antara perencanaan, realisasi di lapangan, serta manfaat nyata yang diterima masyarakat.

“Semua proyek yang dibiayai oleh negara dan diperuntukkan bagi rakyat Kabupaten Probolinggo kami minta untuk diaudit. Ini bagian dari tanggung jawab moral dan partisipasi publik dalam mengawasi pengelolaan keuangan negara,” tegasnya.

Hudik berharap Kejaksaan Tinggi Jawa Timur dapat menindaklanjuti laporan tersebut secara objektif, profesional, dan transparan sesuai kewenangan hukum yang dimiliki. Ia juga menyatakan kesiapan LSM KPK Nusantara Probolinggo untuk memberikan keterangan tambahan maupun dokumen pendukung apabila diperlukan dalam proses klarifikasi dan pendalaman perkara.

Hingga berita ini ditayangkan, pihak Kejaksaan Tinggi Jawa Timur belum memberikan pernyataan resmi terkait laporan tersebut. Sementara itu, redaksi membuka ruang klarifikasi dan hak jawab bagi pemerintah desa maupun instansi terkait di lingkungan Pemerintah Kabupaten Probolinggo, sesuai dengan prinsip keberimbangan dan Kode Etik Jurnalistik.

Yek Mus Pimpin Aksi Damai, Tegaskan Komitmen Jaga Kondusivitas Kabupaten Probolinggo

PROBOLINGGO — Koordinator lapangan sekaligus orator aksi, Habib Mustofa atau yang akrab disapa Yek Mus, menegaskan bahwa aksi damai yang diikuti ratusan pemuda dan warga Probolinggo digelar sebagai bentuk kepedulian terhadap stabilitas daerah sekaligus untuk meluruskan anggapan bahwa Pemerintahan SAE Kabupaten Probolinggo di bawah kepemimpinan Gus Haris dan Lora Fahmi bersikap anti kritik.

Pernyataan tersebut disampaikan Yek Mus dalam aksi damai yang berlangsung di halaman Kantor Pemerintah Kabupaten Probolinggo, Senin (5/1/2026). Massa aksi yang mengatasnamakan diri sebagai kelompok cinta damai Probolinggo menyuarakan pentingnya menjaga ketertiban umum dan iklim demokrasi yang sehat.

Menurut Yek Mus, aksi tersebut tidak dimaksudkan untuk membatasi atau meniadakan kritik terhadap pemerintah daerah. Ia menegaskan bahwa kritik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem demokrasi dan dijamin oleh peraturan perundang-undangan.

“Pemerintahan SAE ini bukan anti kritik dan bukan anti dikoreksi. Kritik itu sah dan merupakan hak warga negara dalam demokrasi,” ujar Yek Mus.

Namun demikian, Yek Mus menekankan bahwa penyampaian kritik perlu memperhatikan mekanisme, etika, dan saluran yang tersedia agar aspirasi dapat tersampaikan secara konstruktif dan tidak menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat.

“Kami hanya mengingatkan, menyampaikan kritik itu ada mekanismenya, ada salurannya. Jangan setiap persoalan langsung direspons dengan aksi turun ke jalan. Gunakan ruang aspirasi yang ada agar pesan sampai dengan baik,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan agar penyampaian pendapat di ruang publik tidak membangun framing negatif yang berpotensi menimbulkan persepsi keliru seolah-olah Kabupaten Probolinggo berada dalam kondisi tidak kondusif. Menurutnya, hingga saat ini stabilitas daerah masih terjaga dengan baik.

Aksi damai tersebut berlangsung tertib dan tanpa insiden. Massa menyampaikan aspirasi secara bergantian, disertai imbauan untuk menjaga ketenangan, menghormati perbedaan pandangan, serta menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi.

Hingga kegiatan berakhir, situasi di sekitar lokasi tetap aman dan terkendali. Aparat keamanan melakukan pengamanan secara persuasif guna memastikan jalannya aksi berlangsung kondusif serta tidak mengganggu aktivitas pelayanan publik.

PHRI Probolinggo: Libur Nataru Jadi Momentum Kebangkitan Hotel dan Restoran

PROBOLINGGO — Momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025–2026 menjadi “bahan bakar” utama bagi sektor perhotelan dan restoran di Kabupaten Probolinggo. Pergerakan wisatawan, terutama menuju kawasan Gunung Bromo, terbukti mendongkrak okupansi hotel serta kunjungan ke usaha kuliner di sejumlah titik strategis.

Ketua BPC Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Probolinggo, Ir. Ar. H. Rofiq Ali Pribadi, S.T., M.T., IPM., IAI, menyebut kenaikan tersebut sebagai sinyal positif bagi kebangkitan ekonomi pariwisata daerah.

“Selama libur Nataru, tingkat hunian hotel dan restoran di kawasan wisata Bromo naik sekitar 5 hingga 7 persen dibanding hari normal,” ujar Haji Rofiq, Jumat (2/1/2026).

Haji Rofiq menjelaskan, lonjakan kinerja paling signifikan dirasakan oleh hotel dan restoran yang berada di kawasan penyangga destinasi wisata Bromo. Arus wisatawan yang stabil sepanjang libur panjang berdampak langsung pada tingkat hunian kamar serta transaksi usaha.

Namun, ia menegaskan bahwa dampak Nataru tidak dirasakan secara merata. Sejumlah wilayah seperti kawasan Pantura dan Probolinggo timur, khususnya sektor penginapan, masih berada pada kondisi relatif stabil.

“Untuk hotel di Pantura dan wilayah timur, okupansi masih cenderung standar karena jaraknya cukup jauh dari pusat wisata utama,” jelasnya.

Berbeda dengan sektor penginapan, usaha restoran di sepanjang jalur Pantura justru mencatat tren kenaikan signifikan. PHRI mencatat peningkatan jumlah pengunjung restoran mencapai 5 hingga 10 persen selama libur Nataru.

“Kawasan Pantura menjadi jalur lintasan wisatawan antar kota. Banyak yang singgah untuk makan dan beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan,” ungkap Haji Rofiq.

Menurutnya, beroperasinya ruas Tol Probolinggo–Banyuwangi, khususnya Gerbang Tol Tongas hingga Paiton, turut memengaruhi pola perjalanan wisatawan. Infrastruktur tersebut mempercepat mobilitas dan meningkatkan potensi singgah di titik-titik kuliner Pantura.

“Jalur tol membuat perjalanan lebih cepat dan nyaman. Efeknya langsung terasa pada sektor restoran,” katanya.

Ke depan, PHRI Kabupaten Probolinggo mendorong penguatan promosi pariwisata yang lebih merata dan berkelanjutan. Selain Bromo sebagai lokomotif utama, kawasan Paiton–Tongas, jalur selatan Krucil–Tiris–Sukapura, serta potensi pesisir, sungai, dan danau dinilai perlu dikembangkan secara serius.

PHRI berharap tren positif akhir tahun ini dapat menjadi pijakan awal bagi penguatan sektor pariwisata dan ekonomi lokal sepanjang 2026, seiring peningkatan infrastruktur, kualitas layanan, dan promosi destinasi terintegrasi.