Aliansi BEM Sumenep Tolak Wacana Pilkada Lewat DPRD, Ketua DPRD Ikut Nyatakan Penolakan

SUMENEP – Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sumenep menyatakan penolakan keras terhadap wacana pemilihan kepala daerah melalui DPRD yang kembali mencuat dengan alasan efisiensi anggaran. Para mahasiswa menilai wacana tersebut sebagai kemunduran demokrasi serta ancaman terhadap prinsip kedaulatan rakyat.

Koordinator Lapangan Aliansi BEM Sumenep, Moh. Nurul Hidayatullah, menyebut bahwa DPRD tidak sepenuhnya merepresentasikan kehendak rakyat, sebab merupakan representasi partai politik.

“Jika wacana Pilkada melalui DPRD ini ditetapkan, yang kami khawatirkan DPRD justru menjadi arena transaksi politik yang melegalkan jual beli jabatan atas nama konstitusi,” tegasnya dalam orasi.

Menurut Aliansi BEM Sumenep, tingginya biaya Pilkada bukan alasan tepat untuk menghilangkan hak pilih rakyat. Mereka menyebut solusi yang benar adalah perbaikan tata kelola pemilu dan penegakan hukum terhadap praktik korupsi politik, bukan mengubah sistem pemilihan menjadi tertutup dan elitis.

Aliansi juga mengingatkan bahwa Mahkamah Konstitusi telah menegaskan Pilkada sebagai bagian dari rezim pemilu, sehingga penyelenggaraannya wajib mengacu pada prinsip langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.

Koordinator Umum Aliansi BEM Se-Kabupaten Sumenep, M. Salman Farid, menambahkan bahwa Pilkada tidak langsung berpotensi memutus relasi politik antara masyarakat dan pemimpin daerah.

“Ketika kepala daerah dipilih oleh elite parlemen lokal, legitimasi kekuasaan tidak lagi bersumber dari rakyat, melainkan dari kompromi politik, kepentingan partai, dan potensi transaksi kekuasaan,” ujarnya.

Menariknya, sikap penolakan terhadap Pilkada tidak langsung juga muncul dari lembaga yang disebut-sebut akan diuntungkan oleh wacana tersebut. Ketua DPRD Kabupaten Sumenep, Zainal Arifin, menyatakan penolakannya secara terbuka.

“Saya, Ketua DPRD Kabupaten Sumenep, menolak dengan tegas wacana pemilihan kepala daerah melalui DPRD karena tidak sesuai dengan amanat demokrasi,” tegasnya.

Aliansi BEM Sumenep berharap DPRD Kabupaten Sumenep konsisten berpihak pada kepentingan rakyat, serta secara resmi menyatakan dukungan terhadap Pilkada langsung sebagai bentuk demokrasi substantif dan penghormatan terhadap hak asasi politik warga negara.

banner 400x130

Polres Sumenep Tekankan Profesionalisme Anggaran Lewat Sosialisasi DIPA 2026

SUMENEP — Kapolres Sumenep AKBP Anang Hardiyanto, S.I.K. memimpin kegiatan Sosialisasi Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Tahun Anggaran 2026 sekaligus Penandatanganan Pakta Integritas TA 2026 pada Senin (19/1/2026), bertempat di lingkungan Polres Sumenep.

Kegiatan tersebut diikuti oleh pejabat utama Polres, para Kapolsek jajaran, serta perwakilan personel Polres Sumenep. Sosialisasi ini bertujuan memberikan pemahaman menyeluruh mengenai perencanaan, pengelolaan, dan pelaksanaan anggaran Tahun Anggaran 2026 sekaligus memperkuat komitmen integritas seluruh jajaran.

Acara diawali dengan paparan Kabagren Polres Sumenep Kompol Khoirul Anwar, S.H., M.H., yang menjelaskan struktur dan prioritas DIPA TA 2026 serta evaluasi penyerapan DIPA TA 2025. Dalam paparannya, Kabagren menekankan pentingnya efektivitas, efisiensi, serta akuntabilitas dalam penggunaan anggaran untuk mendukung pelaksanaan tugas kepolisian secara optimal.

Usai paparan, Kapolres Sumenep AKBP Anang Hardiyanto, S.I.K. memberikan arahan kepada seluruh peserta kegiatan. Dalam arahannya, Kapolres menegaskan bahwa anggaran yang telah dialokasikan negara harus digunakan dengan tepat sasaran dan dipertanggungjawabkan secara transparan sesuai ketentuan.

“Anggaran yang sudah ada harus dikelola dan dipertanggungjawabkan dengan sebaik-baiknya, karena hal tersebut merupakan wujud tanggung jawab kita kepada institusi dan masyarakat,” tegas Kapolres.

Sebagai penutup, dilakukan penandatanganan Pakta Integritas Tahun Anggaran 2026 oleh pejabat terkait sebagai bentuk komitmen mewujudkan pengelolaan anggaran yang bersih, profesional, dan berintegritas di lingkungan Polres Sumenep.

RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep Gaungkan Budaya Hidup Bersih Lewat Program Inovatif

SUMENEP – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. H. Moh. Anwar kembali membuktikan diri sebagai rumah sakit daerah yang layak dijadikan teladan nasional. Dengan mengusung komitmen “lingkungan super bersih”, RSUD kebanggaan masyarakat Madura ini menjadikan kebersihan sebagai fondasi utama pelayanan kesehatan.

Direktur RSUD dr. H. Moh. Anwar, dr. Erliyanti, M.Kes, menegaskan bahwa kebersihan bukan sekadar urusan estetika, tetapi merupakan benteng pertama untuk melindungi pasien dari risiko infeksi.

“Kami ingin RSUD ini benar-benar menjadi tempat yang aman, nyaman, dan bebas dari risiko infeksi. Lingkungan super bersih adalah pondasi pelayanan maksimal kami,” ujarnya.

Melalui program unggulan ini, RSUD meningkatkan standar kebersihan ruangan, mengoptimalkan kinerja cleaning service, serta melaksanakan sterilisasi rutin di seluruh area rumah sakit — mulai dari ruang perawatan, IGD, laboratorium, hingga fasilitas umum.

Tak hanya itu, pihak rumah sakit juga aktif memberikan edukasi kepada staf, pasien, dan keluarga pengunjung agar bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan. Langkah ini menjadikan budaya hidup bersih bukan sekadar slogan, tetapi perilaku kolektif yang melekat di seluruh lapisan rumah sakit.

Respons masyarakat pun sangat positif. Banyak keluarga pasien mengapresiasi ruangan yang bersih, fasilitas yang terawat, serta tenaga kesehatan yang ramah dan sigap. Suasana nyaman ini membuat pasien merasa lebih tenang selama menjalani perawatan.

“Rumah sakit bukan hanya tempat mengobati penyakit, tapi juga ruang pemulihan yang sehat, nyaman, dan manusiawi. Itu yang ingin kami hadirkan di RSUD dr. H. Moh. Anwar,” tutup dr. Erliyanti.

PBNU Sepakati Islah di Lirboyo, Penyelesaian Dinamika Internal Ditempuh Lewat Muktamar

Kediri — Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dilaporkan telah mencapai kesepakatan islah atau rekonsiliasi dalam pertemuan yang berlangsung di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Kamis (25/12/2025).

Pertemuan tersebut diprakarsai para masyayikh dan mustasyar Nahdlatul Ulama (NU), sekaligus mempertemukan dua pimpinan tertinggi PBNU dalam satu forum musyawarah. Agenda ini dinilai menjadi titik penting dalam upaya merespons dinamika internal organisasi yang berkembang dalam beberapa bulan terakhir.

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menyampaikan bahwa musyawarah di Lirboyo menghasilkan kesepakatan bersama untuk menyelesaikan persoalan jam’iyah melalui mekanisme organisasi yang sah, yakni Muktamar.

“Alhamdulillah, islah telah dicapai. Saya bersama Rais Aam sepakat bahwa jalan terbaik bagi NU adalah menyelenggarakan Muktamar secara bersama-sama,” ujar Gus Yahya dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (25/12/2025).

Musyawarah tersebut merupakan kelanjutan dari Musyawarah Kubro yang sebelumnya juga digelar di lingkungan Pondok Pesantren Lirboyo, sebagai bagian dari ikhtiar kolektif para kiai untuk menjaga soliditas dan marwah organisasi.

Dengan adanya kesepakatan ini, Gus Yahya menegaskan bahwa kepemimpinan PBNU tetap berjalan sesuai struktur yang berlaku hingga Muktamar ke-35 NU diselenggarakan, dengan KH Miftachul Akhyar tetap menjabat sebagai Rais Aam dan dirinya sebagai Ketua Umum PBNU.