Perkuat Keamanan Desa, Kapolres Blitar Bagikan HT ke Lima Poskamling

BLITAR – Guna mempersempit ruang gerak pelaku kejahatan dan memperkuat deteksi dini di tingkat desa, Polres Blitar melakukan langkah proaktif dengan menyalurkan sarana kontak berupa Handy Talky (HT) kepada petugas Pos Keamanan Lingkungan (Poskamling).

Kegiatan yang berlangsung pada Minggu malam (11/1) tersebut menyasar lima wilayah hukum Polres Blitar secara serentak. Penyerahan bantuan ini dipimpin langsung oleh jajaran Pejabat Utama (PJU) Polres Blitar yang turun ke lapangan untuk berdialog dengan warga.

Kapolres Blitar, AKBP Arif Fazlurrahman, S.H., S.I.K., M.Si., melalui Kasi Humas IPTU Putut Siswahyudi, menegaskan bahwa pemberian HT ini bertujuan untuk memodernisasi sistem koordinasi tradisional tanpa menghilangkan kearifan lokal budaya ronda malam.

“Poskamling adalah ujung tombak keamanan. Dengan adanya HT, komunikasi antara warga dan kepolisian kini bisa lebih cepat dan efektif. Jika ada potensi gangguan kamtibmas, laporan bisa masuk secara real-time,” ujar IPTU Putut.

Adapun lima lokasi yang menjadi fokus penyaluran sarana kontak kali ini meliputi:

  •  Desa Olak Alen (Kecamatan Selorejo)
  • Desa Tulungrejo (Kecamatan Wates)
  • Desa Wonotirto (Kecamatan Wonotirto)
  • Desa Sumberagung (Kecamatan Panggungrejo)
  • Desa Pulerejo (Kecamatan Bakung)

Selain membagikan perangkat komunikasi, para PJU Polres Blitar juga membakar semangat warga untuk tetap konsisten menjaga lingkungan. Warga diimbau untuk tidak ragu melaporkan aktivitas mencurigakan sekecil apa pun di wilayah mereka.

Masyarakat menyambut baik inisiatif ini. Bantuan HT dinilai sangat bermanfaat, terutama untuk desa-desa yang memiliki jangkauan wilayah luas, guna memastikan situasi Kabupaten Blitar tetap aman dan kondusif.

banner 400x130

Perkuat Humanisme Polri, Kapolsek Sumenep Kota Gelar Silaturahmi dengan Bhabinkamtibmas

SUMENEP — Polsek Sumenep Kota menggelar kegiatan silaturahmi bersama jajaran Bhabinkamtibmas dari wilayah hukum Polsek Sumenep Kota dan Polsubsektor Batuan sebagai bagian dari upaya memperkuat soliditas internal serta mendekatkan Polri dengan masyarakat, Rabu malam (7/1/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Mapolsek Sumenep Kota mulai pukul 20.30 WIB hingga 21.25 WIB tersebut dipimpin langsung Kapolsek Sumenep Kota, AKP Maliyanto Effendi, S.H., M.H., serta didampingi Kapolsubsektor Batuan, IPTU Abuhairi.

Dalam suasana informal dan penuh keakraban, Kapolsek menyampaikan sejumlah arahan strategis kepada para Bhabinkamtibmas yang disebut sebagai garda terdepan Polri di tengah masyarakat.

“Bhabinkamtibmas harus selalu hadir di tengah masyarakat, merangkul tokoh masyarakat, tokoh agama, dan seluruh warga binaannya. Kedekatan inilah yang menjadi kunci terciptanya situasi kamtibmas yang aman dan kondusif,” tegas AKP Maliyanto Effendi.

Kapolsek juga meminta agar setiap persoalan yang muncul di desa binaan dapat diselesaikan secara persuasif di tingkat bawah melalui musyawarah, sehingga tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas.

Selain itu, anggota diminta aktif memonitor setiap informasi melalui grup jukrah sebagai sarana koordinasi cepat, serta memperkuat kegiatan sambang rutin untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap Polri.

Sementara itu, IPTU Abuhairi menambahkan bahwa stabilitas keamanan wilayah sangat bergantung pada sinergi antara aparat dan warga.

“Sinergi Bhabinkamtibmas dan masyarakat adalah fondasi dalam menjaga kamtibmas, baik di Kecamatan Kota maupun Batuan,” ucapnya.

Selama kegiatan berlangsung, situasi terpantau aman, lancar, dan kondusif. Acara ini sekaligus menjadi komitmen Polsek Sumenep Kota untuk terus menghadirkan Polri yang humanis, responsif, dan profesional dalam melayani masyarakat.

Dengan kegiatan seperti ini, Polsek Sumenep Kota menegaskan kembali peran Polri sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat, sekaligus menjaga keamanan wilayah melalui pendekatan kedekatan sosial dan dialog terbuka.

Reni Astuti Dorong Akses Pendidikan Inklusif dan Penyerapan Kerja bagi Generasi Muda

Pemerataan akses pendidikan serta peningkatan penyerapan tenaga kerja menjadi isu strategis dalam upaya mewujudkan pembangunan kota dan daerah yang berkelanjutan. Anggota Komisi X DPR RI, Reni Astuti, menegaskan bahwa indikator kemajuan tidak semata-mata diukur dari capaian statistik, melainkan dari kemampuan negara dan daerah dalam menjamin pemenuhan hak dasar masyarakat secara adil dan merata.

Hal tersebut disampaikan Reni dalam program Wawasan Radio Suara Surabaya, Rabu (31/12/2025) pagi. Legislator dari daerah pemilihan Surabaya itu menilai pembangunan yang berorientasi inklusivitas harus menempatkan aspek sosial sebagai prioritas, seiring dengan penguatan infrastruktur dan ekonomi.

Menurut Reni, Surabaya saat ini telah masuk dalam kategori kota maju dengan indeks keberlanjutan yang berada di kisaran 83 persen. Capaian tersebut dinilai sebagai hasil kesinambungan kebijakan lintas kepemimpinan. Meski demikian, ia mengingatkan agar capaian tersebut tidak membuat pemerintah abai terhadap persoalan riil di tingkat masyarakat.

“Capaian yang sudah baik ini harus dijaga bersama. Jika terdapat kebijakan atau praktik yang berjalan di luar mekanisme hukum, maka harus disikapi secara tegas, adil, dan proporsional oleh pemerintah daerah maupun aparat penegak hukum,” ujar Reni.

Ia juga menyoroti masih tingginya angka pengangguran terbuka di kalangan pemuda, termasuk lulusan perguruan tinggi. Reni menilai fenomena deindustrialisasi dan melemahnya sektor industri berdampak langsung pada terbatasnya lapangan kerja, seiring meningkatnya jumlah perusahaan yang melakukan efisiensi atau penghentian operasional.

Aspirasi tersebut, kata Reni, telah ia sampaikan dalam rapat kerja bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Ia menekankan bahwa tujuan pendidikan tinggi harus selaras dengan kebutuhan dunia kerja.

“Tantangan kita bukan hanya meningkatkan partisipasi pendidikan tinggi, tetapi memastikan lulusan dapat terserap di dunia kerja. Angka pengangguran terbuka di kalangan usia muda masih tinggi dan ini menjadi pekerjaan rumah bersama,” tegasnya.

Selain ketenagakerjaan, Reni memberi perhatian khusus pada kelompok rentan dan masyarakat dalam kategori kemiskinan ekstrem. Meski upaya pemenuhan kebutuhan dasar dinilai mengalami perbaikan, ia mendorong kebijakan yang mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat secara berkelanjutan.

Salah satu instrumen yang dinilai efektif adalah pemberian beasiswa pendidikan. Di tingkat daerah, Program Beasiswa Pemuda Tangguh di Surabaya dinilai telah membantu perluasan akses pendidikan. Sementara di level nasional, Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah diharapkan terus menjadi solusi bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu.

“Prinsipnya, negara harus hadir memastikan tidak ada anak Indonesia yang terhambat melanjutkan pendidikan tinggi hanya karena faktor ekonomi,” ujar Reni.

Di bidang legislasi, Reni menyampaikan bahwa Komisi X DPR RI tengah membahas Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas) melalui pendekatan kodifikasi. Rancangan tersebut bertujuan menyatukan sejumlah regulasi terkait pendidikan, termasuk pengaturan guru, dosen, dan pendidikan tinggi, agar lebih terintegrasi.

Salah satu gagasan yang dibahas adalah penerapan wajib belajar 13 tahun, dimulai sejak satu tahun pendidikan prasekolah. Kebijakan ini diharapkan mampu mempercepat peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia agar lebih kompetitif secara global.

Menutup pernyataannya, Reni merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan masih tingginya jumlah pemuda usia produktif yang tidak bekerja, tidak bersekolah, dan tidak mengikuti pelatihan. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menghambat pencapaian visi Indonesia Emas 2045 apabila tidak ditangani secara terpadu.

“Generasi muda harus diberikan ruang dan kesempatan. Baik melalui peningkatan keterampilan yang sesuai potensi daerah maupun akses pendidikan yang terjangkau. Energi muda ini tidak boleh dibiarkan tanpa arah dan aktivitas produktif,” pungkasnya.

(rn-ha)

Eri Cahyadi Ajak Warga Surabaya Jaga Persatuan dan Tolak Diskriminasi Berbasis Suku

SURABAYA – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyerukan kepada seluruh warga untuk menjaga persatuan dan menolak segala bentuk diskriminasi maupun provokasi yang berpotensi memecah belah kehidupan sosial masyarakat.

Seruan tersebut disampaikan menyusul mencuatnya kasus dugaan pengusiran seorang perempuan lanjut usia dari rumahnya yang diduga melibatkan sekelompok orang yang tergabung dalam organisasi masyarakat. Peristiwa itu dinilai berpotensi memicu konflik sosial berbasis identitas suku.

Dalam kesempatan deklarasi Sumpah 100% Arek Suroboyo di Plaza Internatio, Senin (29/12/2025) malam, Eri secara khusus mengingatkan generasi muda Surabaya agar tidak mudah terprovokasi isu-isu yang menyeret identitas kesukuan.

“Arek-arek Surabaya jangan pernah terprovokasi dan jangan pernah diadu,” ujar Eri.

Ia menegaskan bahwa Kota Surabaya dibangun dari keberagaman latar belakang suku, budaya, dan karakter warganya. Oleh karena itu, segala bentuk diskriminasi atas dasar suku, agama, ras, dan golongan harus ditolak bersama.

Eri juga meminta warga, terutama kalangan pemuda, untuk menjaga keberanian dalam bersikap, namun tetap menjunjung tinggi adab, kesantunan, dan kepatuhan terhadap hukum yang berlaku.

“Surabaya tidak boleh diam ketika terjadi tindakan diskriminatif. Namun ketegasan itu harus dijalankan secara beradab dan sesuai aturan,” tegasnya.

Terkait kasus pengrusakan rumah lansia tersebut, Eri menekankan bahwa kejadian serupa tidak boleh terulang kembali. Ia menyayangkan adanya tindakan yang justru memunculkan sentimen dan stigma terhadap suku tertentu.

Menurutnya, Surabaya adalah kota hukum, sehingga setiap persoalan harus diselesaikan melalui mekanisme hukum, bukan melalui kekerasan atau tindakan sepihak.

Sebagai langkah konkret, Pemerintah Kota Surabaya akan membentuk Satuan Tugas Anti Premanisme yang melibatkan unsur TNI, Polri, Kejaksaan, serta perwakilan pemimpin suku di Surabaya.

“Tidak boleh ada lagi premanisme di Kota Surabaya. Kita harus berani melawan, tetapi dengan penegakan hukum yang berjalan,” katanya.

Eri juga mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya pemuda, untuk berpartisipasi aktif dalam satgas tersebut. Pemkot Surabaya berencana mengumpulkan seluruh organisasi masyarakat dan perwakilan suku di Surabaya pada Rabu (31/12/2025) untuk menyatakan ikrar bersama melawan premanisme.

“Saya titipkan Kota Surabaya kepada para pemuda. Jangan pernah membiarkan rumah kita dirusak, apalagi dijadikan ajang konflik antar suku,” pungkasnya.

(rn-ha)