Kemacetan di Surabaya Dampak Aksi Buruh pada Malam Natal, Serikat Pekerja Sampaikan Penjelasan dan Permohonan Maaf

Surabaya — Arus lalu lintas di sejumlah ruas jalan utama Kota Surabaya sempat lumpuh pada malam Natal, Rabu (24/12/2025), akibat aksi unjuk rasa buruh yang memblokade Jalan Basuki Rahmat (Basra) selama sekitar dua jam. Aksi tersebut berdampak pada mobilitas masyarakat, termasuk umat Kristiani yang hendak mengikuti ibadah Misa Natal.

Wakil Sekretaris Forum Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Jawa Timur, Nuruddin Hidayat, menjelaskan bahwa aksi blokade dilakukan sebagai bentuk kekecewaan buruh terhadap Pemerintah Provinsi Jawa Timur terkait p.s.bsapan Upah Minimum Provinsi (UMP) 2026.

Menurut Nuruddin, buruh menilai besaran UMP 2026 yang ditetapkan masih jauh dari Kebutuhan Hidup Layak (KHL). Pemerintah Provinsi Jawa Timur m.s.bsapkan UMP 2026 sebesar Rp2.446.880,68, sementara nilai KHL Jawa Timur tercatat sebesar Rp3.575.938 berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan dan Badan Pusat Statistik (BPS).

Ia menambahkan, upaya audiensi dengan Gubernur Jawa Timur hingga malam hari sebelum aksi tidak membuahkan hasil. Kondisi tersebut mendorong koordinator lapangan aksi mengambil keputusan untuk melakukan pemblokiran jalan sebagai bentuk tekanan agar aspirasi buruh mendapat perhatian.

“Ini yang mendasari kekecewaan teman-teman di lapangan. Audiensi sampai malam tidak terealisasi, sementara harapan kami UMP bisa mendekati KHL,” ujar Nuruddin saat diwawancarai Radio Suara Surabaya, Kamis (25/12/2025).

Sebelumnya, kata Nuruddin, serikat buruh telah melakukan sejumlah dialog dan audiensi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur sejak awal pekan. Namun, pertemuan tersebut dinilai tidak menghasilkan kesepakatan, sehingga buruh memutuskan menggelar aksi unjuk rasa selama tiga hari bertepatan dengan jadwal p.s.bsapan UMP dan UMK Jawa Timur 2026.

Di sisi lain, Nuruddin juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas dampak aksi tersebut, khususnya terganggunya lalu lintas pada malam Natal. Ia menegaskan bahwa aksi massa dilakukan sebagai upaya terakhir untuk meningkatkan daya tawar buruh kepada pemerintah.

“Kami mohon maaf kepada seluruh masyarakat, khususnya pengguna jalan, atas ketidaknyamanan yang terjadi. Bagi kami, setelah dialog tidak membuahkan hasil, aksi massa menjadi satu-satunya cara untuk menyampaikan aspirasi,” ujarnya.

Wartawan: Handono

banner 400x130

Enam Pelaku Pencurian Pintu Air Tambak Diamankan Warga di Sidoarjo

Sidoarjo — Enam orang terduga pelaku pencurian pintu air tambak diamankan warga di kawasan Tambak Segoro, Kecamatan Sedati, Sidoarjo, Jumat (19/12/2025). Penangkapan dilakukan setelah warga mencurigai aktivitas pelaku yang berulang kali menyasar fasilitas tambak milik warga.

Lurah Tambak Segoro, Anik Machmudah, mengatakan warga telah melakukan pengintaian sejak sekitar pukul 15.30 WIB. Para pelaku diketahui menggunakan perahu untuk menuju lokasi pintu air tambak yang akan dicuri.

“Warga menerima laporan adanya aktivitas pencurian pintu air tambak. Setelah memastikan situasi, warga bersama perangkat kelurahan bergerak ke lokasi dan mengamankan para pelaku,” kata Anik saat dikonfirmasi, Jumat malam.

Puluhan warga kemudian menyergap enam pelaku menjelang magrib. Saat penangkapan, para pelaku sempat berupaya melarikan diri, namun berhasil diamankan.

Menurut Anik, pencurian pintu air tambak telah lama meresahkan warga karena terjadi berulang. Upaya penangkapan dilakukan secara bersama-sama untuk mencegah pelaku kembali lolos.

Kerugian akibat hilangnya satu unit pintu air tambak ditaksir mencapai Rp10 juta hingga Rp25 juta.

Usai diamankan, keenam pelaku diserahkan ke Polsek Sedati. Namun, karena mengalami luka akibat tindakan massa, para pelaku terlebih dahulu dibawa ke RS Bhayangkara Porong untuk mendapatkan perawatan medis.

Kapolsek Sedati Iptu Masyita membenarkan bahwa para pelaku yang merupakan warga Pasuruan masih menjalani perawatan medis. Hingga berita ini diturunkan, proses hukum terhadap para pelaku masih menunggu kondisi kesehatan mereka.