Kapolres Blitar Ajak Pengemudi Ojek Jadi Mitra Keamanan

BLITAR — Kapolres Blitar AKBP Rivanda, S.I.K., meresmikan Pangkalan Ojek Bhayangkara di Simpang Empat Kendalrejo, Kecamatan Talun, pada Rabu (28/1/2026). Program tersebut menjadi bagian dari strategi proaktif Polri dalam memperkuat kemitraan dengan masyarakat serta menjaga stabilitas Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) di wilayah hukum Kabupaten Blitar.

Kegiatan peresmian berlangsung khidmat dan turut dihadiri jajaran Forkopimcam Talun, Kasat Binmas, KBO Lantas, KBO Samapta, serta Kapolsek Talun. Kehadiran unsur lintas sektor itu menegaskan pentingnya kolaborasi untuk menciptakan lingkungan yang aman dan tertib.

Dalam sambutannya, AKBP Rivanda menegaskan bahwa kehadiran Pangkalan Ojek Bhayangkara bukan hanya untuk menunjang layanan transportasi masyarakat, tetapi juga sebagai mitra strategis kepolisian.

“Para pengemudi ojek diharapkan tidak hanya berperan sebagai pengguna jalan, tetapi juga sebagai mitra Polri dalam menjaga ketertiban dan memberikan rasa aman kepada masyarakat,” ujar AKBP Rivanda.

Kapolres juga memberikan imbauan kepada pengemudi ojek untuk:

  • Mematuhi aturan lalu lintas,
  • Menjadi pelopor keselamatan berkendara,
  • Melaporkan gangguan keamanan di area publik.

Simpang Empat Kendalrejo dipilih sebagai lokasi peresmian karena termasuk titik dengan mobilitas warga yang tinggi. Penataan pangkalan ojek yang terorganisir diharapkan dapat:

  • Melancarkan arus lalu lintas melalui parkir yang tertib,
  • Mengurangi potensi kriminalitas melalui pengawasan partisipatif,
  • Meningkatkan rasa aman bagi masyarakat pengguna jalan.

Peresmian ditandai secara simbolis dengan pemotongan pita, dilanjutkan peninjauan fasilitas pangkalan. AKBP Rivanda juga berdialog langsung dengan para pengemudi ojek untuk menyerap aspirasi dan masukan terkait situasi di lapangan.

Melalui langkah ini, Polres Blitar menegaskan komitmennya untuk terus berinovasi dalam pelayanan publik, membangun kedekatan sosial dengan warga, serta memperkuat kehadiran negara di ruang-ruang aktivitas masyarakat.

banner 400x130

Skandal Higienitas Program MBG: Belatung Hidup Ditemukan dalam Menu Mie di MIN 13 Blitar

BLITAR — Program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Blitar tengah menjadi sorotan publik. Alih-alih memberi asupan nutrisi bagi siswa, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Wlingi disebut menyajikan menu mie yang diduga terkontaminasi larva (belatung) saat didistribusikan ke MIN 13 Blitar, Selasa (27/01) pagi.

Kronologi Temuan di Sekolah

Insiden tersebut terungkap sekitar pukul 10.44 WIB ketika siswa hendak menyantap jatah makan siang. Pihak sekolah kemudian menemukan organisme hidup di dalam kemasan makanan sehingga memicu laporan resmi dan komunikasi dengan penyedia makanan.

Menindaklanjuti laporan itu, Kepala SPPG Wlingi, Givan, melakukan kunjungan mendadak ke sekolah untuk menyampaikan permohonan maaf kepada pihak sekolah dan orang tua siswa.

Higienitas MBG Dipertanyakan, Belatung Ditemukan Hidup pada Menu Sekolah.

Sorotan Pengawas: Indikasi Kelemahan pada Sanitasi

Ketua Barisan Relawan Nusantara Raya (BRNR) Kabupaten Blitar, Sutrisno, S.H., selaku pengawas independen program MBG, menyayangkan kejadian ini. Menurut Sutrisno, temuan belatung yang masih hidup mengindikasikan adanya masalah pada prosedur pengolahan atau pengemasan.

“Logikanya sederhana, jika mie sudah dimasak dengan baik, belatung pasti mati. Karena ditemukan masih hidup, besar kemungkinan masuk saat proses penyajian akibat lingkungan yang tidak steril. Ini murni kecerobohan dan sangat merugikan anak-anak,” ujar Sutrisno.

54e36dda fbc4 46cd a63b 1462be484761 scaled
Program MBG Blitar Disorot Usai Menu Mie Diduga Terkontaminasi Belatung.


Catatan Evaluasi dan Kinerja SPPG Wlingi

Menurut data pemantauan BRNR, kasus serupa disebut pernah terjadi pada waktu sebelumnya. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran mengenai efektivitas Standar Operasional Prosedur (SOP) yang diterapkan oleh SPPG di bawah naungan Yayasan Pelita Albarkah Indonesia.

Menjawab berbagai kritik, Givan menyatakan pihaknya akan mengambil langkah korektif, antara lain:

  • Evaluasi total terhadap rantai produksi makanan,
  • Memperketat kontrol sanitasi di dapur dan area pengemasan,
  • Memberikan sanksi internal kepada petugas yang diduga lalai agar kejadian tidak terulang.

Desakan Audit oleh Masyarakat

Hingga berita ini diterbitkan, masyarakat serta wali murid mendesak instansi kesehatan dan dinas terkait untuk melakukan audit keamanan pangan terhadap SPPG Wlingi guna memastikan kualitas makanan bagi siswa di Blitar.

Pembunuhan Mertua di Blitar: Menantu Habisi Sariyah dengan Gunting, Motif Dendam dan KDRT

BLITAR — Kasus pembunuhan menggegerkan warga Dusun Setinggil, Desa Gandekan, Kecamatan Wonodadi, Kabupaten Blitar, pada Senin (26/1/2026) malam. Seorang wanita muda berinisial NV (21) diduga menghabisi nyawa mertuanya, Sariyah (70), menggunakan gunting setelah diduga mengalami tekanan dan perlakuan tidak menyenangkan di dalam rumah.

Peristiwa ini pertama kali diketahui ketika anak korban, Yulfa Nurohman (40), pulang dari bekerja sekitar pukul 22.00 WIB. Ia mulai curiga setelah melihat sepeda listrik milik ibunya hilang. Saat memeriksa kamar, ia menemukan ibunya sudah dalam keadaan tak bernyawa dengan luka tusuk di bagian leher.

Motif Dendam: Sering Dimaki dan Diusir dari Rumah

Kapolres Blitar Kota, AKBP Kalfaris Triwijaya Lalo, menyampaikan bahwa kasus ini memiliki motif personal. Berdasarkan pemeriksaan, NV mengaku sering dimaki, diusir, dan tidak disukai oleh korban.

“Tersangka NV kerap dimaki dan diusir oleh korban yang memang tidak menyukai keberadaannya di rumah tersebut,” ujar AKBP Kalfaris dalam konferensi pers, Selasa (27/1/2026).

Puncak emosi tersangka terjadi sekitar pukul 19.30 WIB, ketika korban disebut sempat mengacungkan gergaji sambil menyuruh NV keluar dari rumah. Kondisi tersebut memicu eskalasi konflik domestik yang berujung fatal.

Kronologi Pembunuhan: Cekik, Tekan Bantal, hingga Tikaman Berulang

Dalam kondisi emosi tidak terkendali, NV diduga mendorong korban ke tempat tidur, kemudian mencekik menggunakan tangan dan menekan bantal ke wajah mertuanya.

Tidak berhenti di situ, NV mengambil gunting berwarna hitam yang berada di kasur dan menusukkan ke tubuh korban:

  • Leher: 3 kali
  • Perut: 2 kali
  • Lengan: 1 kali

Usai memastikan korban tidak bergerak, NV meninggalkan lokasi sambil membawa anaknya yang masih balita.

Hasil Pemeriksaan Medis: Penyebab Kematian Akibat Asfiksia

Meskipun terdapat luka tusuk, tim medis menyimpulkan penyebab utama kematian adalah gangguan pernapasan (asfiksia).

Temuan forensik meliputi:

  • Kekerasan tumpul pada leher
  • Resapan darah pada otot bagian depan leher
  • Luka memar akibat cekikan
  • Seluruh luka tusuk bersifat antemortem (sebelum korban meninggal)

Proses Hukum: Tersangka Terancam 15 Tahun Penjara

Polisi telah mengamankan sejumlah barang bukti, antara lain:

  • Gunting hitam
  • Sprei berlumuran darah
  • Sisa uang tunai Rp100 ribu

NV dijerat pasal berlapis, termasuk Pasal 458 ayat (1) KUHP dan UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Kapolres Blitar Kota mengimbau masyarakat agar konflik rumah tangga diselesaikan melalui komunikasi, mediasi, atau pihak ketiga, guna mencegah eskalasi kekerasan domestik yang dapat menghilangkan nyawa.

Kasus ini menambah daftar pembunuhan bermotif domestik di Jawa Timur, yang sekaligus menjadi alarm tentang pentingnya pencegahan KDRT dan dukungan psikososial dalam lingkungan keluarga.

Meriahkan Dies Natalis, SMPN 2 Wlingi Gelar Olimpiade MIPAS hingga Bakti Sosial

BLITAR — SMP Negeri 2 Wlingi kembali menunjukkan eksistensinya melalui perayaan hari ulang tahun (Dies Natalis) yang berlangsung meriah tahun ini. Rangkaian kegiatan yang dijadwalkan berlangsung selama lima hari, mulai 25 hingga 29 Januari, mengombinasikan kompetisi prestasi, kreativitas siswa, hingga aksi kemanusiaan.

Kepala SMPN 2 Wlingi, Teguh Raharjo, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa perayaan kali ini dirancang untuk menyentuh dua sisi, yaitu sisi eksternal melalui pelibatan sekolah dasar dan masyarakat, serta sisi internal untuk mengasah potensi peserta didik.

Dies Natalis SMPN 2 Wlingi: Ajang Prestasi, Kreativitas, dan Kepedulian Sosial.

Sinergi dengan Sekolah Dasar dan Masyarakat

Untuk kegiatan eksternal, SMPN 2 Wlingi mengundang siswa-siswi sekolah dasar (SD) di sekitar wilayah Wlingi untuk berkompetisi dalam beberapa ajang bergengsi, di antaranya:

  • Olimpiade MIPAS (Matematika, IPA, dan IPS)
  • Turnamen olahraga: bola voli, bulutangkis, sepak bola, dan mini soccer

Tidak hanya fokus pada prestasi akademik dan olahraga, kepedulian sosial juga menjadi pilar utama. Sekolah menyelenggarakan kegiatan khitanan massal yang diikuti warga sekitar, bahkan meluas hingga peserta dari Kecamatan Kesamben, Doko, Selopuro, Talun, dan Gandusari.

“Kami ingin keberadaan SMPN 2 Wlingi tidak hanya dirasakan manfaatnya oleh siswa kami sendiri, tetapi juga oleh masyarakat luas di wilayah Blitar,” ujar Teguh Raharjo.

Internal: Asah Kreativitas dan Kepedulian

Di lingkungan internal sekolah, suasana tidak kalah semarak dengan adanya Bazar Kelas yang melatih jiwa kewirausahaan siswa, serta lomba yel-yel dan pentas seni sebagai wadah ekspresi bakat nonakademik.

Puncak kekeluargaan ditunjukkan melalui agenda santunan anak yatim. Sebanyak 60 siswa yatim mendapatkan santunan sebagai bentuk rasa syukur dan penguatan empati di antara keluarga besar sekolah.

Ringkasan Agenda Dies Natalis SMPN 2 Wlingi

Jenis Kegiatan & Detail Acara:

KategoriKegiatan
Akademik & Olahraga (Eksternal)Olimpiade MIPAS, voli, bulutangkis, sepak bola, mini soccer
Sosial (Masyarakat)Khitanan massal lintas kecamatan
Kreativitas (Internal)Bazar Kelas, lomba yel-yel, pentas seni
Religi & Sosial (Internal)Santunan kepada 60 siswa yatim